Jumat, 18 Februari 2011

PENGARUH EXERCISE TERHADAP TEKANAN DARAH


Di susun oleh:
1.     Ni’matun Hasanah
2.     Desy Dwi Arisandi
3.     Laila Chairotunnisa
4.     Ika Novia Sinanu
5.     Mu’allim




KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberi limpahan karunia-Nya sehingga penyusun berhasil menyusun makalah ini, yang ada di tangan pembaca sekarang.
Makalah ini merupakan kumpulan materi tentang “PENGARUH EXERCISE TERHADAP TEKANAN DARAH”. Penyajian makalah ini diharapkan dapat menjadi salah satu media yang memudahkan proses pembelajaran mahasiswa.
Harapan kami, materi yang ada di dalam makalah ini mudah di pahami, walaupun hal ini nantinya berkosekuensi makalah ini tidak dapat menjadi referensi utama sehingga mahasiswa diharapkan membaca buku lain yang relevan guna memenuhi sasaran pembelajaran.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penyusun harapkan untuk memperbaiki makalah ini di masa yang akan datang. Terima kasih





Cilacap, 18 Jauari 2011


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Tujuan Penulisan
BAB II FISIOLOGI JANTUNG
            1.3.1 Ukuran, Posisi, atau Letak Jantung
            1.3.2 Lapisan Pembungkus Jantung
1.3.3 Lapisan Otot Jantung
1.3.4 Katup Jantung
1.3.5 Ruang, Dinding & pembuluh Darah Besar Jantung
1.3.6 Arteri Koroner
1.3.7 Siklus Jantung
A. Fase Ventrikel Filling
B. Fase Atrial Contraction
C. Fase Isovolumetric Contraction
D. Fase Ejection
E. Fase Isovolumetric  Relaxation
BAB III PEMBAHASAN
1.       Definisi Tekanan Darah
2.     Regulasi Tekanan Darah
3.     Mekanisme Pengatur Tekanan Arteri Sangat Cepat


4.     Mekanisme Umpan Balik Syaraf
5.     Mekanisme Hormonal
6.     Mekanisme pergeseran cairan kapiler
7.     Sistem Pengaturan Tekanan Arteri Jangka Panjang
8.     Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Tekanan Darah
9.     Hipotesis
BAB IV PENUTUP

               
               











BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Manusia pada dasarnya tidak terlepas dari kegiatan fisik sehari-hari. Kegiatan tersebut tentunya akan mempengaruhi tubuh seseorang terutama pada tekanan darah manusia. Pada dasarnya tekanan darah normal manusia adalah 120/80mmHg, namun apabila seseorang melakukan aktivitas maka tekanan darah tersebut akan berubah. 
B. Tujuan penulisan
            Tujuan penulisa dari makalah ini adalah untuk mengetahui pengaruh exercise terhadap tekanan darah. Mampu melakukan pengukuran tekanan darah dengan menggunakan metode
fisiologi.

















BAB II
JANTUNG
Secara fisiologi, jantung adalah salah satu organ tubuh yang paling vital fungsinya dibandingkan dengan organ tubuh vital lainnya. Dengan kata lain, apabila fungsi jantung mengalami gangguan maka besar pengaruhnya terhadap organ-organ tubuh lainya terutama ginjal dan otak. Karena fungsi utama jantung adalah sebagai single pompa yang memompakan darah ke seluruh tubuh untuk kepentingan metabolisme sel-sel demi kelangsungan hidup. Untuk itu, siapapun orangnya sebelum belajar EKG harus menguasai anatomi & fisiologi dengan baik dan benar.

I.3.1. Ukuran,Posisi atau letak Jantung
          Ukuran jantung manusia mendekati ukuran kepalan tangan atau dengan ukuran panjang kira-kira 5" (12cm) dan lebar sekitar 3,5" (9cm). Jantung terletak di belakang tulang sternum, tepatnya di ruang mediastinum diantara kedua paru-paru dan bersentuhan dengan diafragma. Bagian atas jantung terletak dibagian bawah sternal notch, 1/3 dari jantung berada disebelah kanan dari midline sternum , 2/3 nya disebelah kiri dari midline sternum. Sedangkan bagian apek jantung di interkostal ke-5 atau tepatnya di bawah puting susu sebelah kiri.
I.3.2. Lapisan Pembungkus Jantung
         Jantung di bungkus oleh sebuah lapisan yang disebut lapisan perikardium, di mana lapisan perikardium ini di bagi menjadi 3 lapisan  yaitu :
• Lapisan fibrosa, yaitu lapisan paling luar pembungkus jantung yang melindungi jantung ketika jantung mengalami overdistention. Lapisan fibrosa bersifat sangat keras dan bersentuhan langsung dengan bagian dinding dalam sternum rongga thorax, disamping itu lapisan fibrosa ini termasuk penghubung antara jaringan, khususnya pembuluh darah besar yang menghubungkan dengan lapisan ini (exp: vena cava, aorta, pulmonal arteri dan vena pulmonal).
• Lapisan parietal, yaitu bagian dalam dari dinding lapisan fibrosa
• Lapisan Visceral, lapisan perikardium yang bersentuhan dengan lapisan luar dari otot jantung atau epikardium.
         Diantara lapisan pericardium parietal dan lapisan perikardium visceral terdapat ruang atau space yang berisi pelumas atau cairan serosa atau yang disebut dengan cairan perikardium. Cairan perikardium berfungsi untuk melindungi dari gesekan-gesekan yang berlebihan saat jantung berdenyut atau berkontraksi. Banyaknya cairan perikardium ini antara 15 - 50 ml, dan tidak boleh kurang atau lebih karena akan mempengaruhi fungsi kerja jantung.

I.3.3. Lapisan Otot Jantung
     Lapisan otot jantung terbagi menjadi 3 yaitu :
• Epikardium,yaitu bagian luar otot jantung atau pericardium visceral
• Miokardium, yaitu jaringan utama otot jantung yang bertanggung jawab atas kemampuan kontraksi   jantung.
• Endokardium, yaitu lapisan tipis bagian dalam otot jantung atau lapisan tipis endotel sel yang berhubungan langsung dengan darah dan bersifat sangat licin untuk aliran darah, seperti halnya pada sel-sel endotel pada pembuluh darah lainnya.

I.3.4. Katup Jantung
          Katup jatung terbagi menjadi 2 bagian, yaitu katup yang menghubungkan antara atrium dengan ventrikel dinamakan katup atrioventrikuler, sedangkan katup yang menghubungkan sirkulasi sistemik dan sirkulasi pulmonal dinamakan katup semilunar.
          Katup atrioventrikuler terdiri dari katup trikuspid yaitu katup yang menghubungkan antara atrium kanan dengan ventrikel kanan, katup atrioventrikuler yang lain adalah katup yang menghubungkan antara atrium kiri dengan ventrikel kiri yang dinamakan dengan katup mitral atau bicuspid.
          Katup semilunar terdiri dari katup pulmonal yaitu katup yang menghubungkan antara ventrikel kanan dengan pulmonal trunk, katup semilunar yang lain adalah katup yang menghubungkan antara ventrikel kiri dengan asendence aorta yaitu katup aorta.  
Katup berfungsi mencegah aliran darah balik ke ruang jantung sebelumnya sesaat setelah kontraksi atau sistolik dan sesaat saat relaksasi atau diastolik. Tiap bagian daun katup jantung diikat oleh chordae tendinea sehingga pada saat kontraksi daun katup tidak terdorong masuk keruang sebelumnya yang bertekanan rendah. Chordae tendinea sendiri berikatan dengan otot yang disebut muskulus papilaris.

I.3.5. Ruang,Dinding & Pembuluh Darah Besar Jantung
Jantung kita dibagi menjadi 2 bagian ruang, yaitu :
1. Atrium (serambi)
2. Ventrikel (bilik)
           Karena atrium hanya memompakan darah dengan jarak yang pendek, yaitu ke ventrikel. Oleh karena itu otot atrium lebih tipis dibandingkan dengan otot ventrikel. Ruang atrium dibagi menjadi 2, yaitu atrium kanan dan atrium kiri. Demikian halnya dengan ruang ventrikel, dibagi lagi menjadi 2 yaitu ventrikel kanan dan ventrikel kiri. Jadi kita boleh mengatakan kalau jantung dibagi menjadi 2 bagian yaitu jantung bagian kanan (atrium kanan & ventrikel kanan) dan jantung bagian kiri (atrium kiri & ventrikel kiri).
          Kedua atrium memiliki bagian luar organ masing-masing yaitu auricle. Dimana kedua atrium dihubungkan dengan satu auricle yang berfungsi menampung darah apabila kedua atrium memiliki kelebihan volume.

          Kedua atrium bagian dalam dibatasi oleh septal atrium. Ada bagian septal atrium yang mengalami depresi atau yang dinamakan fossa ovalis, yaitu bagian septal atrium yang mengalami depresi disebabkan karena penutupan foramen ovale saat kita lahir.
          Ada beberapa ostium atau muara pembuluh darah besar yang perlu anda ketahui yang terdapat di kedua atrium, yaitu :
• Ostium Superior vena cava, yaitu muara atau lubang yang terdapat diruang atrium kanan yang menghubungkan vena cava superior dengan atrium kanan.
• Ostium Inferior vena cava, yaitu muara atau lubang yang terdapat di atrium kanan yang menghubungkan vena cava inferior dengan atrium kanan.
• Ostium coronary atau sinus coronarius, yaitu muara atau lubang yang terdapat di atrium kanan yang menghubungkan sistem vena jantung dengan atrium kanan.
• Ostium vena pulmonalis, yaitu muara atau lubang yang terdapat di atrium kiri yang menghubungkan antara vena pulmonalis dengan atrium kiri yang mempunyai 4 muara.
         Bagian dalam kedua ruang ventrikel dibatasi oleh septal ventrikel, baik ventrikel maupun atrium dibentuk oleh kumpulan otot jantung yang mana bagian lapisan dalam dari masing-masing ruangan dilapisi oleh sel endotelium yang kontak langsung dengan darah. Bagian otot jantung di bagian dalam ventrikel yang berupa tonjolan-tonjolan yang tidak beraturan dinamakan trabecula. Kedua otot atrium dan ventrikel dihubungkan dengan jaringan penghubung yang juga membentuk katup jatung dinamakan sulcus coronary, dan 2 sulcus yang lain adalah anterior dan posterior interventrikuler yang keduanya menghubungkan dan memisahkan antara kiri dan kanan kedua ventrikel.
         Tekanan jantung sebelah kiri lebih besar dibandingkan dengan tekanan jantung sebelah kanan, karena jantung kiri menghadapi aliran darah sistemik atau sirkulasi sistemik yang terdiri dari beberapa organ tubuh sehingga dibutuhkan tekanan yang besar dibandingkan dengan jantung kanan yang hanya bertanggung jawab pada organ paru-paru saja, sehingga otot jantung sebelah kiri khususnya otot ventrikel sebelah kiri lebih tebal dibandingkan otot ventrikel kanan.


Pembuluh Darah Besar Jantung
• Vena cava superior, yaitu vena besar yang membawa darah kotor dari bagian atas diafragma menuju atrium kanan.
• Vena cava inferior, yaitu vena besar yang membawa darah kotor dari bagian bawah diafragma ke atrium kanan.
• Sinus Coronary, yaitu vena besar di jantung yang membawa darah kotor dari jantung sendiri.
• Pulmonary Trunk,yaitu pembuluh darah besar yang membawa darah kotor dari ventrikel kanan ke arteri pulmonalis
• Arteri Pulmonalis, dibagi menjadi 2 yaitu kanan dan kiri yang membawa darah kotor dari pulmonary trunk ke kedua paru-paru.
• Vena pulmonalis, dibagi menjadi 2 yaitu kanan dan kiri yang membawa darah bersih dari kedua paru-paru ke atrium kiri.
• Assending Aorta, yaitu pembuluh darah besar yang membawa darah bersih dari ventrikel kiri ke arkus aorta ke cabangnya yang bertanggung jawab dengan organ tubuh bagian atas.
• Desending Aorta,yaitu bagian aorta yang membawa darah bersih dan bertanggung jawab dengan organ tubuh bagian bawah.
I.3.6. Arteri Koroner
          Arteri koroner adalah arteri yang bertanggung jawab dengan jantung sendiri,karena darah bersih yang kaya akan oksigen dan elektrolit sangat penting sekali agar jantung bisa bekerja sebagaimana fungsinya. Apabila arteri koroner mengalami pengurangan suplainya ke jantung atau yang di sebut dengan ischemia, ini akan menyebabkan terganggunya fungsi jantung sebagaimana mestinya. Apalagi arteri koroner mengalami sumbatan total atau yang disebut dengan serangan jantung mendadak atau miokardiac infarction dan bisa menyebabkan kematian. Begitupun apabila otot jantung dibiarkan dalam keadaan iskemia, ini juga akan berujung dengan serangan jantung juga atau miokardiac infarction.
Arteri koroner adalah cabang pertama dari sirkulasi sistemik, dimana muara arteri koroner berada dekat dengan katup aorta atau tepatnya di sinus valsava.
Arteri koroner dibagi dua,yaitu:
1.Arteri koroner kanan
2.Arteri koroner kiri

1.    Arteri Koroner Kiri
        Arteri koroner kiri mempunyai 2 cabang yaitu LAD (Left Anterior Desenden)dan arteri sirkumflek. Kedua arteri ini melingkari jantung dalam dua lekuk anatomis eksterna, yaitu sulcus coronary atau sulcus atrioventrikuler yang melingkari jantung diantara atrium dan ventrikel, yang kedua yaitu sulcus interventrikuler yang memisahkan kedua ventrikel. Pertemuan kedua lekuk ini dibagian permukaan posterior jantung yang merupakan bagian dari jantung yang sangat penting yaitu kruks jantung. Nodus AV node berada pada titik ini.
       LAD arteri bertanggung jawab untuk mensuplai darah untuk otot ventrikel kiri dan kanan, serta bagian interventrikuler septum.
Sirkumflex arteri bertanggung jawab untuk mensuplai 45% darah untuk atrium kiri dan ventrikel kiri, 10% bertanggung jawab mensuplai SA node.
2.      Arteri Koroner Kanan
         Arteri koroner kanan bertanggung jawab mensuplai darah ke atrium kanan, ventrikel kanan,permukaan bawah dan belakang ventrikel kiri, 90% mensuplai AV Node,dan 55% mensuplai SA Node.

I.3.7. Siklus Jantung
        Jantung terdiri dari 4 ruang empat ruang jantung ini tidak bisa terpisahkan antara satu dengan yang lainnya karena ke empat ruangan ini membentuk hubungan tertutup atau bejana berhubungan yang satu sama lain berhubungan (sirkulasi sistemik, sirkulasi pulmonal dan jantung sendiri). Di mana jantung yang berfungsi memompakan darah ke seluruh tubuh melalui cabang-cabangnya untuk keperluan metabolisme demi kelangsungan hidup.
Atrium kanan menerima kotor atau vena atau darah yang miskin oksigen dari:
- Superior Vena Kava
- Inferior Vena Kava
- Sinus Coronarius
         Dari atrium kanan, darah akan dipompakan ke ventrikel kanan melewati katup trikuspid.
Dari ventrikel kanan, darah dipompakan ke paru-paru untuk mendapatkan oksigen melewati:
- Katup pulmonal
- Pulmonal Trunk
- Empat (4) arteri pulmonalis, 2 ke paru-paru kanan dan 2 ke paru-paru kiri.

        Darah yang kaya akan oksigen dari paru-paru akan di alirkan kembali ke jantung melalui 4 vena pulmonalis (2 dari paru-paru kanan dan 2 dari paru-paru kiri)menuju atrium kiri.
Dari atrium kiri darah akan dipompakan ke ventrikel kiri melewati katup biskupid atau katup mitral.
Dari ventrikel kiri darah akan di pompakan ke seluruh tubuh termasuk jantung (melalui sinus valsava) sendiri melewati katup aorta. Dari seluruh tubuh,darah balik lagi ke jantung melewati vena kava superior,vena kava inferior dan sinus koronarius menuju atrium kanan.
Secara umum, siklus jantung dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:
• Sistole atau kontraksi jantung
• Diastole atau relaksasi atau ekspansi jantung
Secara spesific, siklus jantung dibagi menjadi 5 fase yaitu :
1. Fase Ventrikel Filling
2. Fase Atrial Contraction
3. Fase Isovolumetric Contraction
4. Fase Ejection
5. Fase Isovolumetric Relaxation
        Siklus jantung berjalan secara bersamaan antara jantung kanan dan jantung kiri, dimana satu siklus jantung = 1 denyut jantung = 1 beat EKG (P,q,R,s,T) hanya membutuhkan waktu kurang dari 0.5 detik.

A. Fase Ventrikel Filling
          Sesaat setelah kedua atrium menerima darah dari masing-masing cabangnya, dengan demikian akan menyebabkan tekanan di kedua atrium naik melebihi tekanan di kedua ventrikel. Keadaan ini akan menyebabkan terbukanya katup atrioventrikular, sehingga darah secara pasif mengalir ke kedua ventrikel secara cepat karena pada saat ini kedua ventrikel dalam keadaan relaksasi/diastolic sampai dengan aliran darah pelan seiring dengan bertambahnya tekanan di kedua ventrikel. Proses ini dinamakan dengan pengisian ventrikel atau ventrikel filling. Perlu anda ketahui bahwa 60% sampai 90 % total volume darah di kedua ventrikel berasal dari pengisian ventrikel secara pasif. Dan 10% sampai 40% berasal dari kontraksi kedua atrium

B. Fase Atrial Contraction
        Seiring dengan aktifitas listrik jantung yang menyebabkan kontraksi kedua atrium, dimana setelah terjadi pengisian ventrikel secara pasif, disusul pengisian ventrikel secara aktif yaitu dengan adanya kontraksi atrium yang memompakan darah ke ventrikel atau yang kita kenal dengan "atrial kick". Dalam grafik EKG akan terekam gelombang P. Proses pengisian ventrikel secara keseluruhan tidak mengeluarkan suara, kecuali terjadi patologi pada jantung yaitu bunyi jantung 3 atau cardiac murmur.
C. Fase Isovolumetric Contraction
        Pada fase ini, tekanan di kedua ventrikel berada pada puncak tertinggi tekanan yang melebihi tekanan di kedua atrium dan sirkulasi sistemik maupun sirkulasi pulmonal. Bersamaan dengan kejadian ini, terjadi aktivitas listrik jantung di ventrikel yang terekam pada EKG yaitu komplek QRS atau depolarisasi ventrikel.
        Keadaan kedua ventrikel ini akan menyebabkan darah mengalir balik ke atrium yang menyebabkan penutupan katup atrioventrikuler untuk mencegah aliran balik darah tersebut. Penutupan katup atrioventrikuler akan mengeluarkan bunyi jantung satu (S1) atau sistolic. Periode waktu antara penutupan katup AV sampai sebelum pembukaan katup semilunar dimana volume darah di kedua ventrikel tidak berubah dan semua katup dalam keadaan tertutup, proses ini dinamakan dengan fase isovolumetrik contraction.

D. Fase Ejection
         Seiring dengan besarnya tekanan di ventrikel dan proses depolarisasi ventrikel akan menyebabkan kontraksi kedua ventrikel membuka katup semilunar dan memompa darah dengan cepat melalui cabangnya masing-masing. Pembukaan katup semilunar tidak mengeluarkan bunyi. Bersamaan dengan kontraksi ventrikel, kedua atrium akan di isi oleh masing-masing cabangnya.

E.Fase Isovolumetric Relaxation
         Setelah kedua ventrikel memompakan darah, maka tekanan di kedua ventrikel menurun atau relaksasi      sementara tekanan di sirkulasi sistemik dan sirkulasi pulmonal meningkat. Keadaan ini akan menyebabkan aliran darah balik ke kedua ventrikel, untuk itu katup semilunar akan menutup untuk mencegah aliran darah balik ke ventrikel. Penutupan katup semilunar akan mengeluarkan bunyi jantung dua (S2)atau diastolic. Proses relaksasi ventrikel akan terekam dalam EKG dengan gelombang T, pada saat ini juga aliran darah ke arteri koroner terjadi. Aliran balik dari sirkulasi sistemik dan pulmonal ke ventrikel juga di tandai dengan adanya "dicrotic notch".
• 1. Total volume darah yang terisi setelah fase pengisian ventrikel secara pasip maupun aktif ( fase ventrikel filling dan fase atrial contraction) disebut dengan End Diastolic Volume (EDV)
• 2. Total EDV di ventrikel kiri (LVEDV) sekitar 120ml.
• 3. Total sisa volume darah di ventrikel kiri setelah kontraksi/sistolic disebut End SystolicVolume (ESV) sekitar 50 ml.
• 4. Perbedaan volume darah di ventrikel kiri antara EDV dengan ESV adalah 70 ml atau yang dikenal dengan stroke volume. (EDV-ESV= Stroke volume) (120-50= 70)
Saatexercise, terjadi peningkatan metabolisme dalam tubuh. Hal ini mempengaruhi tekanan darah, dan termasuk sebagai pengaruh lokal kimiawi. Sebab exercise menyebabkan:
a.       Penurunan O2 oleh karena sel-sel yang aktif melakukan metabolism menggunakan lebih banyak O2 untuk fosforilasi oksidatif untuk menghasilkan ATP.
b.      Peningkatan CO2 sebagai produk sampingan fosforilasi oksidatif
c.       Peningkatan asam – lebih banyak asam karbonat yang dihasilkan dari peningkatan produksi CO2 akibat peningkatan aktivitas metabolic. Juga terjadi penimbunan asam laktat apabila yang digunakan untuk menghasilkan ATP adalah jalur glikolitik.
d.      Peningkatan K+ -- potensial aksi yang terjadi berulang-ulang dan mengalahkan kemampuan pompa Na+ untuk mengembalikan gradient konsentrasi istirahat, menyebabkan peningkatan K+ di cairan jaringan.
e.       Peningkatan osmolaritas ketika metabolism sel meningkat karena meningkatnya pembentukan partikel-partikel yang secara osmotis aktif.
f.        Pengeluaran adenosin sebagai respon terhadap peningkatan aktivitas metabolism atau kekurangan O2, terutama di otot jantung.
g.       Pengeluaran prostaglandin
Tekanan sistolik dan diastolik dalam keadaan istirahat dan dalam keadaan setelah beraktivitas (misalnya : olahraga) akan berbeda karena saat olahraga terjadi peningkatan aliran balik vena.
Efek aktivitas otot rangka selama berolahraga adalah salah satu cara untuk mengalirkan simpanan darah di vena ke jantung. Penekanan vena eksternal ini menurunkan kapasitas vena dan meningkatkan tekanan vena. Peningkatan aktivitas otot mendorong lebih banyak  darah keluar dari vena dan masuk ke jantung.















BAB III
PEMBAHASAN

TEKANAN DARAH
1.        Definisi Tekanan Darah

Tekanan darah dapat diartikan sebagai tekanan yang diberikan oleh darah pada dinding dalam pembuluh darah. Guyton (1996) mengartikan tekanan darah sebagai kekuatan yang dihasilkan darah terhadap setiap satuan luas dinding pembuluh darah. Walaupun pengertian tekanan darah ini berlaku pada seluruh sistem vaskuler, namun yang sering kita sebut sebagai tekanan darah merupakan tekanan darah arteri yang merupakan cabang dari aorta.
Pengukuran tekanan darah arteri selama siklus jantung dapat diukur secara langsung dengan menghubungkan alat pengukur tekanan ke sebuah jarum yang dimasukkan ke dalam arteri. Pengukuran dapat dilakukan secara lebih nyaman dan akurat, yaitu secara tidak langsung dengan menggunakansphygm om anom eter ,suatu manset yang dapat dikembungkan dan dipakai secara eksternal lalu dihubungkan dengan pengukur tekanan. Apabila manset dilingkarkan mengelilingi lengan atas dan kemudian dikembungkan dengan udara, tekanan manset disalurkan melalui jaringan ke arteri brachialis di bawahnya, yaitu pembuluh utama yang mengangkut darah ke lengan bawah. Selama pengukuran tekanan darah, sebuah stetoskop diletakkan di atas arteri brachialis di lipat siku tepat di bawah manset. Bunyi tidak terdengar apabila tidak ada darah yg mengalir atau jika darah mengair secara normal, sedangkan aliran darah yang turbulen akan menimbulkan getaran yang dapat didengar. Pada permulaan pengukuran, manset dikembungkan hingga melebihi tekanan sistolik sehingga arteri kolaps.
Tekanan manset yang besar menyebabkan arteri akan terjepit sehingga darah tidak akan mengalir pada arteri tersebut maka tidak terdengar bunyi. Tekanan manset secara perlahan diturunkan dan pada saat berada tepat di bawah tekanan sistolik puncak maka arteri akan terbuka sedikit dan akan menyebabkan darah mengalir secara turbulen sehingga dapat didengar melalui stetoskop sebagai bunyi. Bunyi yang pertama kali terdengar inilah yang menandakan tekanan darah sistolik. Sewaktu tekanan manset terus turun, darah secara intermiten akan mengalir kembali secara turbulen setiap tekanan arteri melebihi tekanan manset. Sewaktu tekanan manset pertama kali berada di bawah tekanan arteri, maka arteri brachialis tidak terjepit lagi sehingga darah dengan leluasa akan melewati arteri ini, karena aliran darah tidak lagi turbulen maka bunyi tidak akan terdengar. Tekanan tertinggi manset pada saat bunyi terakhir inilah yang kemudian kita sebut sebagai tekanan darah diastolik. (Sherwood,1996) Tekanan darah seseorang selalu dinyatakan dalam dua ukuran, misal 120/80 mmHg.
Ukuran awal disebut sebagai tekanan sistolik sedangkan ukuran yang terakhir disebut sebagi tekanan diastolik. Tekanan sistolik merupakan tekanan arteri yang diperoleh pada saat jantung sedang melakukan kontraksi maksimal, pada saat jantung mengalami relaksasi tekanan arteri turun sampai ke titik terendah dan pada saat inilah tekanan diastolik dapat diukur. Tekanan darah dapat diukur dengan menggunakan alat yang disebut sebagai sphygmomanometer. Arteri yang memiliki denyutan paling besar dan terletaksuper ficial antara lain arteri temporalis, carotis, facialis, brachialis, radialis, femoralis, poplitea, tibialis posterior dan dorsalis pedis (shier,2007). Arteri yang lazim digunakan adalah arteri brachialis yang terletak di fossa cubiti.
2.       Regulasi Tekanan Darah
Tekanan darah arteri rata-rata adalah gaya utama yang mendorong darah dari jantung menuju ke jaringan. Tekanan ini harus diatur secara ketat melalui regulasi yang kompleks karena dua alasan. Alasan pertama, tekanan ini harus cukup tinggi agar dapat menghasilkan tekanan yang cukup untuk mendorong darah menuju ke jaringan perifer. Kedua, tekanan darah tidak boleh terlalu tinggi yang akan mengakibatkan beban kerja jantung bertambah serta meningkatkan resiko rusaknya pembuluh darah dan rupturnya pembuluh-pembuluh perifer yang halus. (sherwood,1996)
Tekanan arteri tidak diatur oleh satu sistem pengatur saja, tetapi oleh beberapa sistem yang saling berhubungan. Secara garis besar sistem-sistem ini terbagi menjadi dua sistem utama yaitu, (1) sistem mekanisme pengatur tekanan arteri yang bekerja secara cepat, dan (2) sistem pengatur tekanan arteri untuk jangka panjang. (Guyton,1996)
3.       Mekanisme Pengatur Tekanan Arteri Sangat Cepat
Mekanisme pengatur tekanan arteri yang bekerja cepat terdiri dari 3 komponen yaitu (1) mekanisme umpan balik saraf, (2) mekanisme hormonal, serta (3) pergeseran cairan melalui kapiler dari jaringan ke dalam atau keluar dari sirkulasi untuk mengatur kembali volume darah sesuai keperluan. Sistem umpan balik saraf merupakan mekanisme yang paling cepat bereaksi, termasuk ke dalam mekanisme ini adalah sistem baroreseptor dan mekanisme iskemia susunan saraf pusat. Sistem ini bereaksi hanya beberapa detik setelah tekanan yang abnormal. Kedua mekanisme yang lain akan menjadi aktif penuh setelah 30 sampai beberapa jam.
4.       Mekanisme Umpan Balik Saraf
Mekanisme baroreseptor merupakan salah satu mekanisme umpan balik saraf. Baroreseptor merupakan ujung-ujung saraf yang terdapat di dalam dinding arteri yang akan tersensitasi apabila diregangkan. Baroreseptor dalam jumlah banyak terdapat di dalam: (1) dinding arteri karotis interna, dan (2) dinding arkus aorta. Impuls yang ditimbulkan dari reseptor ini akan dihantarkan melalui nervus vagus menuju ke medula oblongata. Efek yang ditimbulkan oleh impuls baroreseptor  berupa naiknya tekanan darah terhadap medula oblongata adalah terhambatnya pusat vasokonstriktor dan merangsang pusat nervus vagus, sehingga terjadi vasodilatasi di seluruh sistem sirkulasi perifer serta penurunan frekuensi dan kekuatan kontraksi. Mekanisme ini akan berjalan berlawanan apabila impulsnya berupa penurunan tekanan darah.
Baroreseptor juga bereaksi terhadap perubahan sikap tubuh, terutama yang bersifat mendadak. Orang yang setelah duduk langsung berdiri akan mengalami penurunan tekanan darah yang tiba-tiba sehingga dapat mengakibatkan hilangnya kesadaran. Baroreseptor akan merangsang suatu reflek yang menimbulkan rangsang simpatis yang akan meminimalkan penurunan tekanan darah terutama bagian kepala.
5.       Mekanisme Hormonal

Mekanisme hormonal dibagi menjadi dua, yaitu mekanisme vasokonstriktor
epinefrin-norepinefrin serta mekanisme vasokonstriktorr enin-angiostensin. Mekanisme epinefrin-noreepinefrin berakibat langsung terhadap jantung dan pembuluh darah. Kedua hormon ini beredar di dalam tubuh sebagai perangsangan simpatis secara langsung. Hormon-hormon ini akan merangsang jantung untuk bekerja, menyempitkan pembuluh darah serta vena-vena.
Mekanismerenin angiostensin merupakan suatu mekanisme pengaturan tekanan darah terutama arteri yang melibatkan enzimrenin dari ginjal apabila tekanan darah menjadi rendah. Aliran darah melalui ginjal berkurang maka sel-sel jukstaglomerolus akan melepaskan enzimrenin ke dalam darah.Renin ini akan menyebabkan terbentuknya angiostensin I, dalam beberapa detik angiostensin I akan pecah dan menjadi angiostensin II dengan bantuan suatu converting enzyme.
Angiostensin memiliki beberapa efek yang dapat meningkatkan tekanan darah, yaitu vasokonstriksi pembuluh darah terutama arteri, penurunan ekskresi garam dan air oleh ginjal serta merangsang sekresi aldosteron yang nantinya juga akan menyebabkan penurunan ekskresi garam dan air.





6.      Mekanisme pergeseran cairan kapiler
Mekanisme ini bekerja dengan sistem keseimbangan cairan antara ruang interstisial dengan kapiler. Apabila tekanan arteri naik, maka cairan akan berpindah dari kapiler menuju ke dalam ruang interstisial sehingga volume darah turun dan mengakibatkan tekanan darah ikut turun, begitu pula sebaliknya.
7.     Sistem Pengaturan Tekanan Arteri Jangka Panjang
Pengaturan tekanan arteri jangka panjang dilakukan oleh suatu sistem pengatur ginjal-volume cairan-tekanan. Mekanisme ini melibatkan pengaturan volume darah dengan efek akibatnya pada tekanan darah dan sebagian mekanisme ini melibatkan pengaturan fungsi ginjal oleh beberapa sistem hormon berbeda, termasuk sistem renin- angiostensin dan hormon aldosteron yang disekresikan oleh korteks adrenal.
8.      Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Tekanan Darah
Olahraga sangat bermanfaat bagi tubuh. Diantara banyak manfaat olahraga, salah satunya adalah bahwa olahraga dapat meningkatkan kerja jantung dan pembuluh darah. Respon fisiologis terhadap olahraga adalah meningkatnya curah jantung yang akan disertai meningkatnya distribusi oksigen ke bagian tubuh yang membutuhkan, sedangkan pada bagian-bagian yang kurang memerlukan oksigen akan terjadi vasokonstriksi, misal traktus digestivus. Meningkatnya curah jantung pasti akan berpengaruh terhadap tekanan darah.
9.     Hipotesis
Meningkatnya curah jantung karena olahraga akan mengakibatkan tekanan darah naik pada menit-menit awal. Selanjutnya sistem regulasi tubuh akan berusaha untuk mengkompensasi kenaikan ini, sehingga tekanan darah akan cenderung tetap atau justru turun.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah, yaitu :
1. Volume darah
Semakin tinggi volume darah,maka semakin tinggi pula tekanan darahnya.
2. Kekuatan kontraksi jantung
Meningkatnya kekuatan kontraksi jantung akan meningkatkan tekanan darah.
3. Frekuensi denyut jantung
Dalam batas tertentu, peningkatan frekuensi denyut jantung akan meningkatkan cardiac output sehingga akan meningkatkan volume darah dalam sirkulasi sistemik sehingga akan meningkatkan tekanan darah.
4. Tingkat resistensi pembuluh darah.
Tahanan pembuluh darah cenderung memberikan hambatan terhadap jalannya aliran darah (syaifuddin,2001). Tingkat resistensi dapat diakibatkan karena peningkatan viskositas darah. Semakin tinggi viskositas darah akan menyebabkan peningkatan resistensinya sehinnga tekanan darah akan meningkat.
5. Elastisitas pembuluh darah.
Semakin elastis pembuluh darah,maka akan semakin rendah tekanan darah  yang dihasilkan. (Chandra, 2006) Pada saat melakukan aktivitas fisik/olahraga,faktor yang paling mempengaruhi peningkatan tekanan darah pada orang tersebut terutama adalah peningkatan frekuensi denyut jantung yang akhirnya akan meningkatkan cardiac output/curah jantung. Salah satu mekanisme utama jantung untuk meningkatkan curahnya selama olah raga adalah mekanisme Frank-sterling. Dengan mekanisme ini, bila jumlah darah yang mengalir dari vena ke jantung meningkat, memperbesar ruang-ruangnya dan membuat otot jantung lebih meregang , maka otot jantung akan berkontraksi dengan kekuatan yang bertambah. Dengan demikian volume darah yang dipompakan tiap denyutan jantung menjadi lebih banyak.Meningkatnya curah jantung pada saat olahraga ini dimaksudkan untuk mempertahankan aktivitas otot-otot rangka yang sedang bekerja, sehingga peningkatan aliran darah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan zat gizi sel-sel otot serta membawa kembali karbon monoksida dan ampas-ampas metabolisme ke tempat-tempat pembuangannya.
Selain mekanisme Frank-Sterling yang telah disebutkan diatas, olahraga dapat mengakibatkan kenaikan curah jantung dengan beberapa mekanisme lain,yaitu (1) rangsangan simpatis yang meningkat dapat meningkatkan denyut jantung dan kekuatan kontraksi otot jantung, sementara di lain pihak olahraga juga menurunkan rangsangan parasimpatis ke jantung, (2) timbulnya vasodilatasi vaskuler di dalam otot-otot rangka dan meningkatnya pompa otot akan memungkinkan percepatan aliran darah kembali ke jantung, (3) aktivitas pernapasan yang meningkat menyebabkan peningkatan aliran balik vena dan di lain pihak adanya vasodilatasi perifer akan menurunkan tahanan vaskuler sebagai akibat rangsangan simpatis pada pembuluh darah kapiler dan keadaan ini akan meningkatkan curah jantung (Masud,1989).

Faktor lain yang sangat mempengaruhi kenaikan tekanan darah adalah tahanan perifer total. Pengaruh tahanan perifer total pada tekanan darah terutama melalui perubahan diameter pembuluh darah tepi seperti arteriola. Sebagai faktor penyebab terjadinya perubahan tersebut adalah bahan neurohormonal dan bahan lokal di sekitar pembuluh darah seperti karbon dioksida, adenosin, histamin, asam laktat, kalium, ion hidrogen, magnesium, dan natrium yang memiliki kemampuan memperbesar diameter pembuluh darah tepi dan hal sebaliknya dapat terjadi karena pengaruh kalsium (Masud,1989).
Aliran darah otot rangka pada keadaaan istirahat cukup rendah yaitu sekitar 2- 4 mL/100gr/menit. Pada saat otot berkontraksi secara ritmik, aliran darah yang terjadi pada saat jeda antara kontraksi satu dengan yang lain akan sangat meningkat hampir 30 kali lipat (Ganong,1995). Sangat besarnya peningkatan aliran darah otot pada saat otot rangka berkontraksi terutama disebabkan adanya beberapa mekanisme-mekanisme vasodilator lokal yang bekerja pada saat yang sama. Salah satu faktor yang terpenting adalah berkurangnya oksigen di dalam jaringan otot. Selama otot berkontraksi, otot menggunakan oksigen dengan sangat cepat, sehingga menurunkan konsentrasinya di dalam cairan jaringan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan vasodilatasi baik karena dinding pembuluh darah tidak dapat mempertahankan kontraksinya apabila tidak ada oksigen maupun karena defisiensi oksigen menyebabkan pelepasan beberapa zat vasodilator. Zat vasodilator setempat yang dilepaskan selama kontraksi otot meliputi ion kalium, asetilkolin, ATP, asam laktat, dan karbon dioksida (Guyton,1982).
Untuk menjaga homeostatis, tubuh memiliki mekanisme yang merupakan regulator penurunan dan peningkatan tekanan darah. Dan jika sirkulasi darah sudah tidak memadai lagi, maka akan terjadi gangguan pada sistem transpor oksigen, karbon dioksida serta produk-produk metabolisme lainnya.
Pengendalian secara reflek terhadap tekanan darah dilakukan oleh sistem neural, yaitu baroreseptor dan kemoreseptor yang merupakan sistem yang penting untuk mempertahankan tekanan darah pada keadaan yang mendadak seperti reaksi terhadap perdarahan, dehidrasi cairan tubuh yang mendadak, saat olahraga dan perubahan posisi yang mendadak (Masud,1989). Kedua sistem ini memiliki

mekanisme kerja yang berbeda. Rangsang yang dikirim oleh baroreseptor akan menyebabkan penekanan pada aktivitas vasokontriksi atau dengan kata lain merupakan penyebab vasodilatasi, sedangkan rangsang yang dikirim oleh kemoreseptor menyebabkan peningkatan aktivitas vasokontriktor.
Baroreseptor adalah reseptor regang dalam dinding jantung dan pembuluh darah. Reseptor yang memantau sirkulasi arteri ada pada reseptor sinus karotikus dan arkus aorta. Selain itu, reseptornya juga terdapat di dalam dinding atrium kanan dan kiri pada tempat masuk vena cava superior dan inferior serta vena-vena pulmonalis,juga dalam sirkulasi pulmonal (Ganong,1995). Mekanisme ini mulai berlangsung apabila terjadi regangan pada struktur ditempat reseptor itu berada, yang salah satunya dapat disebabkan karena adanya kenaikan tekanan darah. Dari perangsangan reseptor tersebut, maka impuls saraf yang dihasilkan akan disalurkan melalui nervus vagus dan Hering’sner ve menuju pusat vasodilatator di bagian medial dan distal medula oblongata (Masud,1989).
 Impuls yang berasal dari sinus karotikus akan dikirim melalui Hering’sner ve yang yang sangat kecil lalu menuju ke nervus glossofaringeus dan kemudian ke traktus solitarius di daerah medula batang otak. Sedangkan impuls dari arkus aorta dikirimkan melalui nervus vagus ke medula oblongata pada area yang sama. (Guyton,1996) Setelah sinyal baroreseptor memasuki traktus soitarius medula, sinyal sekunder akhirnya menghambat pusat vasokonstriktor di medula dan merangsang pusat vagus. Efek akhir yang dihasilkan adalah vasodilatasi vena dan arteriol di seluruh sistem sirkulasi perifer dan berkurangnya frekuensi denyut jantung dan kekuatan kontraksi jantung.
Oleh karena itu, perangsangan baroreseptor akibat tekanan di dalam arteri secara refleks menyebabkan penurunan tekanan arteri akibat tahanan perifer dan penurunan curah jantung. Sebaliknya, tekanan yang rendah mempunyai pengaruh yang berlawanan,yang secara refleks menyebabkan tekanan meningkat kembali menjadi normal.(Guyton,1996) Manabe et al (2007) dalam penelitiannya mengenai kaitan baroreflex dengan tekanan darah pada latihan aerobik menyebutkan bahwa pada tahap submaksimal, mekanisme baroreflek akan berperan penting dalam meningkatkan aktivitas simpatis yang akan meningkatkan tekanan darah.



Namun hal ini hanya berlaku pada saat awal latihan, karena pada latihan yang lebih lanjut, mekanisme ini akan semakin lemah dan baroreseptor akan mengubah set point dari tekanan darah menjadi lebih tinggi. Hal ini dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan selama otot melakukan kontraksi.
Menurut Bronwyn A. Kingwell et al.,1997 dalam penelitiannya yang berjudul “Arterial compliance increases after moderate-intensity cycling”, aktivitas fisik tidak merubah rata-rata ataumean tekanan darah, akan tetapi tekanan darah sistolik sentral turun setelah bersepeda selama 30 menit dengan kapasitas 65 persen. Resistensi perifer total juga turun dan akan ikut menyebabkan peningkatan elastisitas pembuluh darah. Penelitian yang dilakukan di australia ini juga menyimpulkan bahwa melakukan kegiatan fisik bersepeda akan meningkatkan compliance arteri seluruh tubuh melalui mekanisme vasodilatasi.
Hasil dari penelitian ini adalah rata-rata kenaikan tekanan darah yang terjadi selama melakukan aktivitas fisik tidak signifikan. Seperti yang telah dijelaskan diatas, pada saat awal melakukan latihan, tekanan darah akan naik karena peningkatan curah jantung dan tahanan perifer yang menurun karena kontraksi otot. Lalu untuk mengkompensasi aktivitas yang intens, mekanisme baroreseptor akan mempertahankan set point pada titik tertentu. Hal ini menjelaskan kenapa pada latihan selama 30 menit, tekanan darah tidak naik terus menerus akan tetapi cenderung naik pada awal lalu menetap atau turun selama latihan berlangsung.
6.     Data percobaan
Percobaan naik turun tangga
Tekanan Darah Awal
Denyut Nadi Awal
Waktu
Tekanan Darah Akhir
Denyut Nadi Akhir
120/80
85
3 menit
130/90
100




BAB IV
PENUTUP


Dari hasil percobaan naik turun tangga diperoleh kesimpulan bahwa tekanan darah dan denyut nadi
seseorang meningkat dari tekanan darah awal. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa exercise mempengaruhi tekanan darah dan denyut nadi seseorang. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar